Carita Kang Yusup Saepuloh tentang Kontribusi Anti Wacana

Andrea Hirata dalam bukunya mengatakan bahwa “Hidup bisa demikian bahagia dalam keterbatasan, jika dimaknai dengan keikhlasan berkorban untuk sesama.”

Muda dan berani merupakan kata yang tepat diberikan kepada narasumber Ngariung kali ini, Kang Yusup Saepuloh. Kang Yusup adalah nonoman Sunda yang berasal dari Desa Dampit, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung. Pada tahun 2016, Kang Yusup berhasil memperoleh gelar sarjana dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran.

Selama kuliah, Kang Yusup merupakan mahasiswa penerima Beasiswa Bidikmisi, yaitu beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa yang kurang mampu, namun memiliki keinginan kuat untuk belajar dan berprestasi. Di tengah keterbatasannya saat itu, Kang Yusup berani memulai untuk memberikan manfaat kepada orang-orang di desanya. ketika anak muda lainnya mungkin sibuk dengan urusan dirinya sendiri, Kang Yusup sudah mulai memikirkan orang lain. Ia peduli dengan kebutuhan orang-orang disekitarnya dan berani memulai upaya nyata untuk membantu, tentunya sesuai dengan kemampuannya. Menurutnya, menjadi mahasiswa harus memiliki keinginan yang kuat untuk dapat bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Lantas, apa ya yang telah dilakukan Kang Yusup di tanah kelahirannya.

“Mahasiswa harus memiliki keinginan untuk dapat bermanfaat bagi lingkungan di sekeliling kita.”

Sejak kuliah, akang yang gemar makan surabi ini sudah mulai merintis untuk mendirikan taman baca bagi anak-anak dan membangun fasilitas olahraga untuk para pemuda di Desa Dampit. Bukan tanpa alasan Kang Yusup bertekad kuat mendirikan dua inisiatifnya ini. Kang Yusup melihat desanya belum memiliki sarana atau tempat bermain yang baik, terutama bagi para pemudanya yang sering mabuk-mabukkan dan mengesampingkan pendidikan. Kang Yusup tidak ingin anak-anak lainnya yang masih sekolah dasar hingga menengah atas akan berkembang menjadi pemuda yang sering mabuk dan mengesampingkan pendidikan. Keadaan ini membuat Kang Yusup terusik, sehingga Kang Yusup memiliki keinginan yang kuat untuk mendirikan sarana berkumpul atau bermain yang lebih positif, salah satunya melalui taman baca dan sarana olahraga berupa lapangan voli untuk para pemuda berolahraga dan berlatih silat.

Sebagai mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi, Kang Yusup sangat menyadari bahwa negara telah membiayainya untuk memperoleh pendidikan dan tidak banyak orang beruntung sepertinya. Kang Yusup menyadari bahwa banyak anak muda yang ingin memperoleh pendidikan, namun memiliki keterbatasan dan tidak memiliki kesempatan seperti dirinya. Karena itu, Kang Yusup ingin pendidikan yang telah diperolehnya juga dapat bermanfaat untuk orang lain, tidak hanya untuk kemajuan dirinya sendiri. Kombinasi antara tekad Kang Yusup yang ingin bermanfaat bagi orang lain dan kondisi nyata di lingkungan terdekatnya ini melahirkan motivasi yang sangat kuat bagi Kang Yusup untuk mewujudkan kontribusinya. Maka, hambatan atau keterbatasan bukan lagi menjadi penghalang.

Kang Yusup  menyadari bahwa ia tidak akan bisa berjalan sendiri untuk membangun taman baca. Bahkan, pada masa-masa awal, Kang Yusup juga sempat bingung harus memulai dari mana. Saat itu, hal yang pertama kali dilakukannya adalah mengutarakan kepada masyarakat setempat mengenai keinginannya yang ingin mendirikan taman baca dan meyakinkan mereka bahwa pembangunan taman baca ini akan memberikan dampak positif bagi anak-anak. Ternyata, masyarakat memberikan respon positif dan mendukung Kang Yusup untuk membangun taman baca. Bentuk dukungan yang diberikan oleh masyarakat diantaranya memberikan salah satu rumah kosong untuk dijadikan tempat bernaung taman baca, melakukan penggalangan dana, dan mengumpulkan tiga kardus yang berisi sekitar lima puluh buku bacaan yang beragam.

Hingga saat ini, telah banyak koleksi bacaan yang tersedia di taman baca, seperti buku dongeng bagi anak usia TK hingga sekolah dasar, buku pengetahuan dasar, wawasan sosial, dan berbagai buku untuk menggambar. Buku–buku yang ada di taman baca merupakan buku pemberian dari masyarakat. “Ti mimiti ayana taman baca buku–buku nu aya seeurna pamasihan, alhamdulillah seeur pisan anu nyumbangkeun bukuna, jadi teu keudah meser” (artinya dari awal adanya taman baca ini, kebanyakan bukunya merupakan pemberian, alhamdulilah banyak sekali yang menyumbang bukunya, jadi tidak perlu membeli), tutur kang Yusup.

Melalui taman baca, kini anak-anak Desa Dampit sangat antusias untuk belajar. Sebelumnya, ketika pulang sekolah mereka hanya melakukan aktivitas bermain seperti anak-anak pada umumnya, namun setelah dibangun taman baca anak-anak memiliki kebiasaan setelah pulang sekolah langsung pergi ke taman baca.“Ayeuna mah barudak Dampit atos apal seeur kebudayaan daerah nu aya di Indonesia, di taman baca seeur buku dongeng atawa carita daerah jadi nu awalna teu nyaho saatos maca buku di taman baca jadi apal carita tiap daerah Indonesia” (artinya, sekarang anak-anak Dampit sudah tahu banyak kebudayaan yang ada di Indonesia, di taman baca banyak buku dongeng maupun cerita daerah sehingga yang awalnya tidak tahu setelah membaca buku di taman baca menjadi tahu cerita setiap daerah Indonesia), tutur Kang Yusup. 

Selain menjadi sarana belajar anak, taman baca juga menjadi sarana berkumpul masyarakat. Dengan adanya taman baca, masyarakat jadi sering berkumpul, sehingga hubungan kekeluargaan terjalin lebih erat. Masyarakat Dampit seringkali melakukan botram (artinya: makan bersama) di taman baca. Pada dasarnya, upaya yang dilakukan oleh Kang Yusup dengan mendirikan taman baca ataupun sarana olah raga bagi pemuda adalah untuk memberikan sarana atau ruang yang lebih positif bagi masyarakat untuk berkembang.

Menurut Kang Yusup, sudah seharusnya kita bisa memberikan manfaat bagi lingkungan di sekeliling kita, terutama bagi kaum intelektual yang berkesempatan mendapatkan pendidikan. Upaya yang dapat dilakukan pun sebenarnya tidak perlu sulit harus mendirikan ini dan itu. Menurutnya, “…seeur carana mun hoyong tiasa ngabingahkeun dulur-dulur urang, teu kedah sukses sareng gaduh artos ageung, bisa di mimitian ti ngajak masyarakat  ngobrol kahirupan sapopoe ge atos atoh” (artinya banyak cara yang bisa dilakukan untuk bisa membahagiakan orang-orang di sekeliling kita tidak perlu untuk sukses dan memiliki harta yang berlimpah, bisa dimulai dengan mengajak ngobrol masyarakat perihal kehidupan sehari – hari juga sudah senang) tutur Kang Yusup.

Saat ini, Kang Yusup telah bekerja di Jakarta sebagai Aparatur Sipil Negara di Kementerian Hukum dan HAM. Oleh karena itu, pengelolaan taman baca tidak bisa dipantau rutin oleh Kang Yusup. Akan tetapi, ditengah kesibukannya, Kang Yusup tetap meluangkan waktu untuk pulang minimal satu bulan sekali dan menitipkan taman baca untuk diurus oleh ibu-ibu PKK“…karena saya pulang sebulan sekali, jadi taman baca saya titipkan kepada ibu-ibu pengurus PKK Desa Dampit. Saya titip supaya ibu-ibu PKK rutin memantau aktivitas anak-anak dan rutin membersihkan taman baca hingga saat ini. Alhamdulillah ibu-ibu PKK yang hingga kini mengurus taman baca ketika saya bekerja.” tutur Kang Yusup.

Sebagai nonoman (anak muda) Sunda, Kang Yusup berpesan bahwa kita jangan takut kalah dan jangan takut dalam melakukan hal-hal positif dan bermanfaat. Memiliki semangat jiwa yang tinggi merupakan kewajiban bagi pemuda. Sedikit bercerita, ketika Kang Yusup mendaftarkan diri sebagai calon pegawai negeri sipil Kementerian Hukum dan HAM, awalnya ia merasa takut dan pesimis karena harus bersaing dengan puluhan ribu orang yang mendaftar. Akan tetapi, Kang Yusup berhasil melaluinya karena ia yakin bahwa tekad, usaha, dan doa yang maksimal akan mengantarkan pada hasil yang terbaik.

Salah satu bentuk kebanggaannya sebagai Urang Sunda, Kang Yusup sering sekali menggunakan bahasa Sunda ketika berbicara dengan teman–temannya yang berasal dari Jawa Barat. Kebanggaan tersebut juga tercermin dengan banyaknya konten-konten Sunda di Instagramnya, seperti menggunakan Bahasa Sunda dalam captionnya, memperkenalkan istilah-istilah Sunda, dan berbagai kebudayaan Sunda. Apabila teman-teman tertarik mengobrol langsung dengan Kang Yusup, terutama terkait bidang pendidikan, teman-teman bisa langsung follow dan menghubungi Kang Yusup di instagramnya @yusup_saepuloh.

——

Profil Kang Yusup

Nama: Yusup Saepuloh

Tempat tanggal lahir: Bandung Barat, 11 Februari 1994

Pendidikan:

S1 Ilmu Pemerintahan Universitas Padjadjaran (2012-2016)

Bidang yang didalami dan bisa dibagi:

    • Bidang Pendidikan
  • Kebudayaan dan kesenian adat sunda Jawa Barat

Instagram: @yusup_saepuloh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *