Carita Teh Andhyta Firselly Utami tentang Berkembang dan Menikah

Teh Afu bersama suaminya, Kak Wikan.

“Perempuan mah jangan sekolah atau punya karir tinggi-tinggi, nanti susah dapet jodohnya!”

Kira-kira setuju engga?

Banyak orang berpikir bahwa mereka yang mengejar pendidikan tinggi dan karir sering melupakan kehidupan percintaan. Namun, tampaknya hal tersebut tidak berlaku bagi narasumber Ngariung kali ini, Teh Andhyta Firselly Utami atau yang akrab disapa Kak Afu atau Teh Afu. Selain memiliki karir dan pendidikan gemilang, Teh Afu juga sudah memiliki pendamping yang melengkapi kehidupan percintaannya.

Menurut pandangan Psikologi Perkembangan, masa muda adalah masa keemasan untuk menemukan identitas diri, atau populernya dikenal dengan pencarian jati diri. Bidang-bidang yang biasanya dieksplorasi pada masa ini adalah pendidikan, pekerjaan, kontribusi sosial, dan hubungan percintaan. Biasanya, bidang-bidang tersebut menjadi sumber kegalauan bagi banyak anak muda.  Melihat perjalanan Teh Afu sampai saat ini, sepertinya Teh Afu berhasil melewati semua aspek tersebut dengan sangat baik. Kok bisa ya?


Teteh keturunan Cianjur ini memang sosok panutan bagi anak muda saat ini. Sejak kuliah, teman-temannya selalu menganggap Teh Afu mampu menyeimbangkan semua aspek kehidupan. Betapa tidak, dalam aspek pendidikan, Teh Afu lulus dari jurusan Hubungan Internasional Universitas Indonesia dan mendapatkan beasiswa dari LPDP untuk melanjutkan pendidikannya ke Harvard Kennedy School, yang merupakan salah satu universitas terbaik di dunia. Dalam bidang kontribusi sosial, sejak kuliah Teh Afu juga aktif dalam kegiatan kepemudaan melalui kegiatan Parlemen Muda dan organisasi Indonesian Future Leaders (IFL) yang ia dan teman-temannya gagas. Untuk urusan karir, saat ini Teh Afu adalah satu dari sedikit orang yang bisa bekerja sebagai konsultan di Bank Dunia untuk bidang makroekonomi. Terakhir dan yang juga tak kalah penting, dalam urusan percintaan, kini Teh Afu sudah menikah dengan pria pilihannya, Kak Wikan.

Ketika kebanyakan anak muda merasa galau dengan pilihan masa depan mereka, perjalanan Teh Afu sampai saat sepertinya sangat mulus dan tidak menemukan banyak hambatan. Apakah artinya Teh Afu tidak pernah galau?

Teteh yang biasa disapa Teh Nenk oleh keluarganya ini mengatakan kalau dirinya justru sangat sulit dalam memutuskan sesuatu (indecisive). Jadi, sebenarnya sering banget galau seperti anak muda pada umumnya. Teh Afu sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan dan selalu menganalisis dampak yang mungkin muncul dari setiap pilihan. Uniknya, kegalauan Teh Afu lebih banyak berputar di ranah pendidikan dan karir saja, tetapi tidak dalam urusan percintaan.

Saat mempertimbangkan untuk berkomitmen dan menikah, Teh Afu tidak terlalu galau dalam memutuskannya karena Teh Afu berpikir bahwa menikah adalah sebuah perjalanan. Menurutnya, kita tidak harus memiliki kecocokan yang tinggi terlebih dahulu ketika menikah, karena hal itu bisa dikembangkan seiring dengan berjalannya pernikahan.“Kebanyakan orang menganggap kecocokan itu adalah prasyarat pernikahan, padahal justru itu adalah hasilnya. Setelah menikah, kita bisa discovering dan belajar hal-hal baru barengan. Jauh lebih dewasa bareng. It’s not a final version of ourselves (artinya: ini bukan versi akhir dari diri kita).

“Kebanyakan orang menganggap bahwa kecocokan itu adalah prasyarat pernikahan, padahal justru itu adalah hasilnya”

Menurut teteh yang gemar makan pecel ini, pernikahan itu sifatnya seperti bentuk kerja sama yang berjalan beriringan. Layaknya sebuah kerja sama, pasti masing-masing pihak harus memiliki tujuan yang sama dalam jangka panjang dan memiliki komitmen untuk berusaha memberikan yang terbaik satu sama lain. Meskipun begitu, sempat juga terbersit kekhawatiran dalam benak Teh Afu, seperti, “gimana kalau nanti pisah? dan gimana kalau nanti dikekang sama suami?” Menurutnya, “Kalau tidak berhasil, ya tidak apa-apa, yang penting terus mencoba dan berusaha berkomitmen sepenuh hati”. Sebelum tanda tangan secara legal dalam pernikahan, sejak awal Teh Afu dan suaminya sudah menyamakan tujuan dan sepakat untuk beberapa hal yang mereka anggap penting, misalnya “kapan mau punya anak? nanti akan tinggal dimana?” dan sebagainya. Dengan begitu, keduanya sudah memiliki gambaran jelas mengenai tujuan dan alasan untuk berkomitmen sejak awal. Menurutnya, “Menikah adalah kerja keras yang perlu komitmen dan karena itu, perlu disepakati bentuk kerjasama yang sesuai dengan visi atau tujuan kita”

“Menikah adalah kerja keras yang perlu komitmen dan karena itu, perlu disepakati bentuk kerjasama yang sesuai dengan visi atau tujuan kita.”

Teteh yang suka tahu Sumedang ini bercerita bahwa banyak sekali proses belajar yang dialaminya setelah menikah. Menurutnya, mereka berkembang menjadi semakin dewasa. Kedewasaan itu ditandai dengan adanya komunikasi yang lebih baik, lebih memahami, bisa menyelesaikan masalah dengan konstruktif, dan lebih mengetahui cara menenangkan pasangan.“Dulu sering ngambek-ngambek, meledak tiba-tiba. But now, we are getting better at fighting (artinya, sekarang kita bertengkar dengan lebih baik). Bisa berkomunikasi dengan lebih rasional dan dengan kepala dingin. Sekarang, kalau lagi ada masalah, bisa nanya kenapa? alasannya apa? dan apa harapannya. Jadi, sekarang lebih konstruktif”, tutur Teh Afu.

Menurut Teh Afu, pernikahan juga dapat menjadi sumber dukungan utama (support system) dalam menjalani kehidupan. Teh Afu dan suaminya berkomitmen dan berusaha bersama setiap hari untuk menjadi individu yang lebih baik. Salah satu wujud nyata dari sikap saling mendukung satu sama lain antara Teh Afu dan suaminya adalah ketika membuat sebuah karya bersama, yaitu kanal Frame and Sentences (FS) di Youtube. Kanal FS berisi video-video yang mengangkat isu-isu menarik dan penting bagi Teh Afu dan suaminya. Untuk membuat video-video tersebut,  Teh Afu bekerja sama dengan Kak Wikan, dengan Teh Afu fokus pada bagian riset dan menulis, kemudian Kak Wikan menerjemahkan riset dan tulisan tersebut ke dalam bentuk visual dalam format video.

“Awalnya iseng, tapi jadi ditunggu-tunggu.” Sejak diluncurkan Juli 2017, kini FS sudah memiliki 8.440 subscriber dan banyak komentar yang menunggu-nunggu konten selanjutnya. Latar belakang dibuatnya FS adalah karena saat itu Teh Afu punya banyak waktu luang ketika magang di Jerman. “Katanya ide bagus itu justru datang saat kita lagi bosan, nah saat itu tercetuslah ide untuk membuat FS”, tutur Teh Afu. Teh Afu memang sering sekali riset dan menulis tentang isu sosial-politik. Beberapa artikelnya pernah dipublikasikan pada beberapa media, seperti Jakarta Post, Rappler, dan sebagainya. Namun, Teh Afu dan suaminya merasa saat ini kebanyakan orang malas membaca dan lebih senang melihat video. Jadi, FS ini merupakan karya kolaborasi antara keunggulan Teh Afu dalam menulis dan kreativitas Kak Wikan dalam dunia multimedia. “Terkait konten, kebanyakan yang dibahas itu karena kita peduli sama isunya, seperti personally offended gitu. Jadi, isu-isu personal, contohnya bahas tentang kalender pernikahan”, lanjut Teh Afu.

Sejak lulus S2 pada akhir Mei 2018 lalu, Teh Afu memiliki beberapa kegiatan. Mulai dari September sampai sekarang, Teh Afu menjadi konsultan di Bank Dunia untuk bidang makroekonomi. Sementara, di luar kantor mengerjakan proyek FS dan beberapa kali mengisi sharing session bersama suaminya sampai ke luar Jakarta.

Teh Afu memiliki beberapa pesan untuk sesama nonoman (anak muda). Paling utama, kita harus terus penasaran dan nggak cepat puas. Ingat, bahwa belajar itu nggak hanya di sekolah. Pastikan bahwa kita selalu berkembang dan mendesain lingkungan kita agar mendukung perkembangan kita. Sebagai contoh, dalam memilih tempat kerja, usahakan untuk pilih tempat kerja yang menuntut untuk belajar banyak dan menantang. “Kalau ada perasaan, duh takut, bisa gak ya? Lean into your fear. Artinya kita sedang berkembang, karena biasanya keputusan yang menakutkan mendorong kita untuk maju dan rasa ketidaknyamanan itu merupakan sinyal kalau kita sedang berkembang”, tutur Teh Afu. Menurut Teh Afu, pada usia 20-an, sangat penting bagi kita untuk berada di lingkungan yang menuntut kita bertumbuh secepat-cepatnya, karena pada usia 30-40 tahun kita tidak selincah ini, tapi akan cenderung melambat dan stabil.

“…pada usia 20-an, sangat penting bagi kita untuk berada di lingkungan yang menuntut kita bertumbuh secepat-cepatnya…”

Teh Afu lulus S2 dari Harvard University pada tahun 2018

Menurut teteh yang gemar minum es cendol ini, penting juga untuk memiliki lingkungan pertemanan dan mentor yang mendukung dan mengawasi perkembangan kita. Hal yang juga penting adalah, jangan sampai kita memandang rendah kemampuan sendiri, “jangan ngebatasin diri sendiri sebelum mencoba, dan punya passion yang ngasih kita sense of berkontribusi”, tutur Teh Afu. Apabila teman-teman ingin berdiskusi lebih lanjut dengan Teh Afu, terutama terkait dengan isu anak muda, gender, isu lingkungan (perubahan iklim), dan beasiswa, teman-teman bisa follow dan kontak Teh Afu di instagramnya @afutami.


Profil narasumber:

Nama: Andhyta Firselly Utami

Pendidikan:

  • S1 Hubungan Internasional, Universitas Indonesia
  • S2 Public Policy, Harvard Kennedy School

Bidang yang bisa didalami dan dibagikan:

  • Isu lingkungan (perubahan iklim)
  • Isu gender
  • Isu kepemudaan pada umumnya
  • Isu beasiswa, terutama untuk pendidikan tinggi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *