Carita Kang Dimas Muhamad yang Satu Almamater dengan Para Pemimpin Dunia

Kang Dimas sedang berada di kelas bersama mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Harvard. Posisi Kang Dimas yang berdiri di tengah, berkacamata, dan mengenakan batik coklat.

Berada di antara pemimpin negara dan bisa berkuliah di universitas terbaik dunia pastilah impian banyak anak muda. Narasumber Ngariung kali ini, Kang Dimas Muhamad, merupakan mahasiswa yang sedang menjalani studi S2 di jurusan Public Policy di Harvard Kennedy School of Government melalui beasiswa LPDP. Yuk, kita simak cerita perjalanan Kang Dimas yang pasti akan menginspirasi teman-teman!

Saat ini, kesibukan akang kelahiran Bandung ini tidak jauh berbeda dengan mahasiswa S2 lainnya, seperti mengerjakan tugas, kerja kelompok, ujian, membantu proyek dosen, dan sebagainya. Pada intinya sekarang sedang fokus untuk menjalani studi. Kampus tempat kuliah Kang Dimas ini telah melahirkan alumni-alumni yang menjadi pemimpin penting dunia, seperti Ban Ki Moon (Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa atau PBB), Robert Zoellick (Presiden Bank Dunia), Ellen Johnson (Presiden Liberia), Felipe Caldėron (Presiden Mexico), dan masih banyak lagi.

Sebelum berkuliah di Harvard, Akang yang hobi memakan seblak ini merupakan penerjemah Presiden Joko Widodo. Percakapan seorang kepala Negara merupakan hal yang sangat rahasia, jadi tentu harus dipercayakan kepada orang yang tepat. Wah bagaimana ceritanya ya?

Setelah lulus tahun 2013 dari jurusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan, Kang Dimas langsung mendaftarkan diri menjadi Aparatur Sipil Negara di Kementerian Luar Negeri sebagai diplomat. Saat menjadi diplomat, ada pelatihan khusus untuk menjadi penerjemah Presiden. Singkat cerita, Kang Dimas mengikuti pelatihan tersebut dan terpilih menjadi salah satu penerjemah Presiden.

Untuk menjadi penerjemah, seorang diplomat tentu harus memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang luar biasa. Tetapi, Kang Dimas merasa kemampuan Bahasa Inggrisnya masih banyak yang harus dibenahi. Apabila dibandingkan dengan teman-teman diplomat lainnya, Kang Dimas merasa masih banyak yang jauh lebih layak darinya untuk menjadi penerjemah Presiden. Kang Dimas bukan berasal dari keluarga yang sehari-hari terbiasa menggunakan Bahasa Inggris dan juga tidak pernah tinggal di luar negeri. Akang yang gemar minum bajigur ini hanya bermodalkan semangat untuk belajar, bersungguh-sungguh, dan punya keinginan untuk maju. Menurutnya, pada akhirnya orang yang fasih atau terampil akan tergeser dengan orang-orang yang mau belajar.

“Pada akhirnya, orang yang fasih atau terampil akan tergeser dengan orang-orang yang mau belajar.”

Sejak kecil, Kang Dimas sangat tertarik dengan Bahasa Inggris, misalnya sering mendengarkan lagu dan menonton film berbahasa Inggris. Meskipun, tidak mengerti apa artinya dan bagaimana melafalkannya dengan benar. Rasa keingintahuan akan Bahasa Inggris ini dipupuk terus, hingga Kang Dimas berkesempatan untuk mengikuti beberapa kompetisi Bahasa Inggris. Sejak SMP, Kang Dimas mulai mengikuti lomba membaca berita dalam Bahasa Inggris, memasuki SMA mulai mengikuti lomba-lomba debat Bahasa Inggris, dan berlanjut hingga kuliah, mengikuti kompetisi bergengsi Model United Nations (MUN). Melalui pengalaman-pengalaman tersebut, Kang Dimas belajar banyak dan terus mengembangkan kemampuan Bahasa Inggrisnya.

Ternyata pada masa sekolahnya, Kang Dimas sering membawa buku kamus kemana-mana. “Dulu, sering banget bawa-bawa kamus Bahasa Inggris kemana-mana. Kamus Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris karangan Hasan Sadili.”, tutur Kang Dimas. Menurutnya, tidak ada momen titik balik khusus yang sampai mengubah pemikirannya harus bisa Bahasa Inggris. Tetapi, lebih kepada akumulasi rasa ingin tahu yang dipupuk terus, kemudian bercampur dengan pemahaman bahwa kemampuan Bahasa Inggris itu sangat penting. Jadi, menurutnya ga ada salahnya untuk belajar, karena pasti ada manfaatnya.”

“Ga ada salahnya untuk belajar, karena pasti ada manfaatnya.”

Menurut Kang Dimas, bahasa merupakan keterampilan yang jika diasah terus menerus akan semakin berkualitas. Ibarat sebuah pepatah Sunda “Cikaracak Ninggang Batu, Laun-Laun jadi Legok” (yang artinya, jika sesuatu dilakukan secara konsisten, meskipun sedikit, pasti akan menciptakan dampak yang besar). Kang Dimas menuturkan, “Alhamdulillah, lumayan teu ngerakeun ayeuna mah Bahasa Inggrisna” (artinya, alhamdulillah sekarang sudah tidak memalukan lagi kemampuan Bahasa Inggrisnya).

Menjadi seorang diplomat dan penerjemah presiden, mungkin bagi sebagian orang sudah merupakan pencapaian yang sangat menakjubkan. Namun, mengapa Kang Dimas masih mau kuliah lagi? Ketika ditanya hal tersebut, Kang Dimas menjawab, “Kalau boleh jujur, sebenarnya Kang Dimas merasa resah dengan kebijakan ekonomi Indonesia.”

Menurut Kang Dimas, banyak kebijakan ekonomi yang belum optimal atau masih dikatakan carut marut dan tidak banyak berpihak pada pelaku ekonomi dalam negeri. Indonesia belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Contoh sederhananya, cerita tentang tahu dan tempe. Kita sudah mengetahui bahwa tahu dan tempe dapat dikatakan seperti makanan pokok atau yang selalu ada di Indonesia. Tetapi, lebih dari setengah bahan baku utamanya, yaitu kedelai, diimpor dari Negara lain.

“Jadi, yang suka kita makan di warteg-warteg itu bahan bakunya impor. Artinya ada kesalahan yang mendasar di kebijakan ekonomi kita. Akang merasa resah, tapi akang belum punya kapasitas ke arah sana, untuk menyusun kebijakan publik”, tutur Kang Dimas. Hal tersebutlah yang mendorong akang yang gemar makan tahu dan tempe ini bertekad bisa sekolah lagi dan sekarang mengambil konsentrasi pembangunan ekonomi di Harvard. Harapannya, Kang Dimas dapat belajar membuat kebijakan publik yang baik, berpihak, dan bermanfaat. Isu tahu dan tempe ini pun menjadi topik yang diangkat dalam esai Kang Dimas pada saat mendaftar beasiswa dan universitas.

Pada tahun 2016, Kang Dimas mengikuti seleksi LPDP dan lolos, kemudian mendapatkan surat penerimaan (Letter of Acceptance) dari Harvard pada tahun 2017, dan baru berangkat ke Harvard tahun 2018.

“Alhamdulillah, bersyukur banget bisa kuliah di Harvard”, tutur Kang Dimas.
Akang yang suka menonton film komedi ini menceritakan bahwa banyak sekali yang dapat dipelajarinya selama kuliah di Harvard. Kalau diibaratkan dengan arah, Kang Dimas belajar dari jalur vertikal dan horizontal. Baik dari segi kapasitas dosen, materi ajar, konsep, dan penerapan serta dari teman-teman mahasiswa lainnya. Kang Dimas di sana berteman dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia yang juga memiliki pengalaman yang beragam. Ada teman Kang Dimas yang menjadi relawan untuk pengungsi Suriah, relawan perang di Kongo, bekerja di NASA, dan masih banyak lagi, yang tentunya sangat menginspirasi Kang Dimas.

Awalnya, Kang Dimas sempat merasakan impostor syndrome atau bahasa kerennya gejala “Jiper-isasi”, merasa agak terintimidasi karena mahasiswa lain hebat-hebat dan Kang Dimas merasa biasa-biasa saja. “Tapi senangnya, mereka semua orang-orang yang suportif, jadi Alhamdulillah sekarang mah sudah mulai nyaman sharing di kelas.”, tutur Kang Dimas. Sepulangnya ke Indonesia, Kang Dimas berencana melanjutkan karir di pemerintahan, tetapi akan fokus mengamalkan ilmu di bidang kebijakan publik yang telah diperolehnya selama studi di Harvard.

Menurut Kang Dimas, menjadi modern, maju, dan pintar itu wajib. Tetapi, menjadi maju dan modern bukan berarti harus meninggalkan budaya sebelumnya. Sebagai nonoman Sunda, kita harus punya kebanggaan karena memiliki jati diri sebagai urang Sunda. Memiliki jati diri Sunda artinya punya modal dan semangat untuk membangun Tanah Sunda. “Tanpa bermaksud chauvinisme, Urang Sunda itu punya banyak alasan mengapa harus berbangga memiliki jati diri Sunda”, tutur Kang Dimas.

Kang Dimas sedang berada di Gedung Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB)

Sebagai contoh, filosofi angklung. Angklung pasti dimainkan bersama-sama untuk mendapatkan harmoni yang indah. Meskipun yang memainkan angklung tidak mengenal satu sama lain, tetapi dalam satu instruksi saja, mereka bisa menciptakan alunan musik yang kompak dan indah. Jadi, angklung itu bisa menggabungkan orang dari berbagai latar belakang. “Pokoknya, indah banget filosofinya. Makannya kalau ada temen akang dari luar negeri, pasti sebisa mungkin akan akang ajak ke Saung Angklung Udjo,” tutur Kang Dimas.

Sebagai bentuk kebanggaannya sebagai Urang Sunda, Kang Dimas sering sekali memasukkan konten-konten bernuansa Sunda ke Instagramnya, seperti menggunakan Bahasa Sunda dalam captionnya, memperkenalkan istilah-istilah Sunda, menggunakan hashtag #SundaAndProud, dan sebagainya. Apabila teman-teman tertarik mengobrol langsung dengan Kang Dimas, terutama terkait Bahasa Inggris, public speaking, studi ekonomi pembangunan, dan studi isu internasional bisa langsung follow dan menghubungi Kang Dimas di Instagramnya @dimuhammad_.

——

Profil Kang Dimas

Nama: Dimas Muhamad

Tempat, tanggal lahir: Bandung, 16 April 1992

Pendidikan:

  • S1 Hubungan Internasional Universitas Parahyangan (2009-2013)
  • S2 Public Policy, Harvard Kennedy School of Government (2018-2020)

Bidang yang didalami dan bisa dibagi:

  • Bahasa Inggris
  • Public Speaking
  • Studi Ekonomi Pembangunan
  • Studi Isu Internasional

Instagram: @dimuhammad_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *