Mentari Putri Novel: Bermusik sambil Menyuarakan Kepentingan Perempuan dan Anak

Teh Nenon sedang tampil di Hotel Grand Sahid Jakarta

Dewasa ini, masih saja kita melihat judul berita mengenai perempuan berprestasi yang, alih-alih berfokus pada apa yang dia lakukan, malah hanya menonjolkan aspek fisiknya. Padahal, sudah banyak perempuan Indonesia yang membanggakan daerah asalnya dengan berprestasi secara individu dan berkontribusi kepada masyarakat. Kali ini, kita akan mengenal lebih dekat Mentari Putri Novel yang menginspirasi dengan karya-karyanya. Yuk disimak!

Teteh kelahiran Sukabumi ini telah menekuni musik sejak kecil. Teh Nenon, begitu ia biasa dipanggil, memang lahir di keluarga musik yang sangat mendukung anak-anaknya untuk memelajari instrumen musik dan olah suara. Di bangku SMP dan SMA serta kuliah, Teh Nenon dan teman-temannya membentuk sebuah band yang kesemua anggotanya perempuan, yang secara berurutan bernama The Pulpy Pumpkins dan Enzi Querida.

Perjalanan Teh Nenon nge-band bukannya tanpa hambatan. “Band-band itu nggak ada yang bisa dilanjutin. Ada masalah internal lah, anggota-anggotanya punya visi masing-masing yang beda, lah. Ya sudah, kayaknya emang aku ditakdirkan bernyanyi secara solo saja, atau kolaborasi tapi tanpa bikin band,” pungkasnya.

Masa kuliah benar-benar dimanfaatkan Teh Nenon untuk berkarya di beragam bidang seni. Kesibukannya di antaranya antara lain aktif dalam komunitas tari fakultas serta pagelaran-pagelaran yang diadakan komunitas tersebut, tampil dalam berbagai acara luar dan dalam kampus, serta beradu peran dalam pertunjukan teater. Di masa kuliah pula, ia berhasil menyabet gelar Mojang Jawa Barat 2011, Top 7 Miss Indonesia 2015, serta Runner Up Social Media Sensation Trans TV 2016. Karena keaktifannya dalam seni, Teh Nenon sempat dinominasikan sebagai “Seniman Terbaik” di fakultasnya!

Selama dua kali berperan dalam pertunjukan teater, Teh Nenon menyadari bahwa ia mendapatkan peran sebagai perempuan yang bermasalah dan menderita. Dalam pementasan pertamanya yang digelar Teater Pandora berjudul “Pernikahan Darah”, Teteh penyuka cah kangkung ini memerankan Helena, perempuan yang terjebak problematika cinta dan berakhir mati di pernikahanya sendiri. Peran keduanya di “Opera Ikan Asin” yang dihelat Teater Koma adalah Lusi, seorang istri yang muntab karena suaminya, seorang raja bandit Batavia, menikahi perempuan lain tanpa bilang-bilang. “Peran Lusi itu jauh beda sama keseharian aku. Aku maki-maki si Mekhit di penjara dengan seribu macam umpatan yang aku sendiri takjub kok bisa kukatakan,” kata Teh Nenon terbahak-bahak.

Tidak hanya seni, jiwa sosial Teh Nenon juga terasah sejak kecil. “Sejak kecil aku ini suka nangis liat penderitaan orang. Liat delman aja aku nangis, kasian kudanya!” Semakin Teh Nenon Dewasa, semakin kepeduliannya ini berevolusi menjadi prinsip yang kira-kira seperti ini: “siapapun kamu, kamu harus bantu orang lain sebisamu, dengan cara yang kamu bisa dan kamu mampu.”

Berbekal keyakinan itu Teh Nenon pun mencoba berkontribusi kepada masyarakat sebisanya. Salah satunya adalah dengan menjadi produser album kampanye forum-forum yang diadakan Indonesian Student and Youth Forum, organisasi non-profit yang bergerak untuk pengembangan dan pergerakan pemuda dalam memberikan kontribusi positif bagi kelangsungan eksistensi pelajar Indonesia ke depan. Selain itu, Teh Nenon juga berpartisipasi dalam kegiatan Ketimbang Ngemis Jakarta. Oleh lembaga Kalyanamitra dan Oxfam, ia didapuk sebagai Duta Stop Perkawinan Anak, dimana ia bertugas untuk menyosialisasikan pentingnya mengejar cita-cita bagi remaja.

Kesibukan utamanya kini adalah menjalankan tugas sebagai Duta Stop Perkawinan Anak serta menulis dan merekam lagu. Mengisi kanal Youtube dengan cover lagu menjadi salah satu ikhtiarnya dalam berkiprah di dunia tarik suara. Bulan Maret 2017 lalu, Teteh penyuka sepatu bot ini merilis debut single pertamanya yang bertajuk “Talk to Me. Klip video single ini dapat ditonton di kanal Youtube Teh Nenon yang dapat diklik di sini. Lalu, pada September, Teh Nenon berkolaborasi dengan Eka Gustiwana dan Prince Husein menelurkan single berjudul “Entah sampai Kapan” yang bisa ditonton di sini. Harapannya, dalam waktu dekat ini Teh Nenon bisa menelurkan album mini yang berisikan lagu-lagu originalnya. “Tunggu tanggal mainnya, semoga diizinkan sama Allah ya!” katanya.

Memang aktivitas utamanya berkisar di sekitaran kesenian, namun Teh Nenon memiliki cita-cita lain yakni diplomat. “Itulah kenapa aku ambil HI UI. Aku nggak mau menggantungkan hidupku di musik saja, walaupun itu cita-cita yang utama. Misalnya jalannya nantinya lain, paling tidak aku punya persiapan, karena di HI pola pikir serta pengetahuanku mengenai politik dan pemerintahan terbentuk banget,” ucapnya dengan mantap.

Lagipula, katanya, musik yang digelutinya kini pun memiliki keterkaitan dengan diplomasi, hal yang sangat penting dalam hubungan internasional. “Musik itu kan bisa dikatakan soft power: kekuatan yang nggak memaksa, namun memikat hati orang. Jika musik Indonesia disukai masyarakat di dalam maupun luar negeri, efeknya akan baik bagi pemusik itu sendiri dan bagi citra Indonesia,” tuturnya.

Sebagai urang Sunda, Teh Nenon mencoba untuk ikut melestarikan budaya Sunda dengan menggunakan bahasa Sunda. Ia juga terus belajar mengenai kebudayaan Sunda. “Paling tidak harus tahu dan mengerti walaupun tidak dijalankan selengkap-lengkapnya.” Memang, bagi Teh Nenon, budaya itu sangat penting.

“Budaya adalah identitas dan harta kita yang akan menjadi bekal untuk memajukan bangsa dan negara Indonesia. Di dalamnya ada kearifan-kearifan yang luhur dan bisa dijadikan pegangan hidup.”

Bagi teman-teman yang tertarik untuk mengobrol langsung dengan Teh Nenon. Terutama terkait seni, bisa langsung menghubungi Teh Nenon di email mentarinenon@gmail.com dan instagramnya @mentarinovel.

_____________________________________________________________________________________________________

PROFIL

Nama Lengkap: Mentari Gantina Putri

Tempat, Tanggal Lahir: Sukabumi, 14 Maret 1993

Pendidikan:

S1 Hubungan Internasional Universitas Indonesia (2011-2016)

Bidang yang didalami dan bisa dibagi:

  • Menyanyi
  • Menari
  • Teater
  • Permainan instrumen musik

E-mail: mentarinenon@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *