Mira Rochyadi-Reetz: Membangun Sikap Silih Ngajenan di Jerman

Teh Mira sedang menarikan tarian Merak di Touristik-Messe in Gütersloh tanggal 26-28 November 2010. Hak cipta milik Website Deutsch-Indonesische Gessellschaft Südwestfalen

Sentimen antarbangsa merupakan sesuatu yang telah ada sejak dulu, dan kini makin kita rasakan keberadaannya. Narasumber Ngariung kali ini, Teh Mira, bisa dibilang sedang berupaya untuk menyebarkan pesan keberagaman untuk meminimalisasi sentimen tersebut sambil menjadi dosen di Jerman. Yuk kita simak cerita Teh Mira!

Teteh yang sejak kecil menari ini harus melalui jalan yang berliku-liku sebelum menjalani kehidupannya sebagai akademisi komunikasi di Jerman. Setelah menamatkan kuliah sarjana jurusan Manajemen di Universitas Widyatama, Teh Mira melanjutkan kuliahnya dengan mengambil program S2 Teknik Industri di Institut Teknologi Bandung, suatu jurusan yang ‘jauh’ dari embel-embel komunikasi. Akan tetapi, Teteh satu ini memiliki pengalaman kerja yang banyak bersinggungan dengan ilmu komunikasi seperti menjadi jurnalis majalah anak-anak Ardan Bandung, penyiar radio K-Lite Bandung, staf protokoler dan humas Pemerintah Provinsi Jawa Barat, serta staf Konsulat jenderal Republik Indonesia Jerman di Frankfurt.

Malah menurutnya, pengalamannya yang beragam memperkaya perspektifnya serta mempertemukannya dengan kesempatan yang tidak disangka-sangka. Kesempatannya untuk bekerja di KJRI Frankfurt adalah salah satu bukti nyatanya. Waktu Teh Mira sedang bekerja di Saung Angklung Udjo, seorang perwakilan dari KJRI Frakfurt meminta Saung Angklung Udjo untuk mencarikan seorang perempuan untuk dipekerjakan di KJRI, dengan kriteria berikut: berpengalaman kerja kantoran, bisa menari, fasih berbahasa Inggris, dan mengerti protokoler. Ternyata, orang yang memiliki kualifikasi tersebut adalah Teh Mira sendiri, mengantarkan Teh Mira bekerja di KJRI Jerman selama priode 2009-2011. Setelah menjalankan lebih banyak lagi peran komunikasi dan hubungan masyarakat di KJRI, barulah Teteh pelahap karedok leunca ini melanjutkan studinya di Ilmu Komunikasi di Universitas Teknologi (UT) Ilmenau. Hal ini mengantarkan Teh Mira pada jenjang karir yang sepenuhnya berbeda dari pekerjaannya sebelumnya. Setelah menyelesaikan tesis masternya, Teh Mira berkesempatan untuk menjadi dosen di ilmu media dan komunikasi UT Ilmenau. Fokus utama riset Teh Mira kini adalah komunikasi lingkungan dan politik, dengan metdlogy riset serta diplomasi publik sebagai minat riset lainnya.

Selain kehidupan akademik serta profesionalnya, Teh Mira juga bertutur mengenai dinamika hidup di Jerman. Dalam begitu banyak ulasan media, negara-negara Eropa digambarkan sedang mengalami pergesekan dengan pengungsi yang datang dari negara-negara berkonflik untuk mencari suaka. Namun, tidak berhenti pada imigran, citra negatif juga menjadi dilekatkan kepada imigran secara umum. Di daerah tempat Teh Mira tinggal, contohnya, mulai ada gerakan menjunjung tinggi nasionalisme dan menginginkan Jerman hanya dihuni oleh ras kulit putih asal Jerman.

Secara umum, warga Jerman yang berinteraksi dengan Teh Mira baik dan toleran. Akan tetapi, keberadaan dan penyebaran pendapat-pendapat yang chauvinis ini perlu diakui dan di satu titik perlu ditanggapi. Nah, itulah hal yang dilakukan Teh Mira! Teteh ini mengumpulkan perempuan-perempuan di Jerman dan menjadikannya grup untuk diskusi dan saling berbagi budaya. Dalam beberapa pertemuan kelompok ini, Teh Mira mengenalkan Indonesia, budayanya, serta bagaimana perempuan Indonesia berperan dalam roda kehidupan. Selama proses tinggal dan berasimilasi serta berdiskusi bersama warga Jerman, Teh Mira menemukan bahwa sebenarnya perempuan Indonesia didukung oleh budaya untuk berkiprah secara lebih luas. Karena lazim bagi keluarga Indonesia untuk memiliki pekerja rumah tangga (PRT), ibu-ibu yang sudah memiliki anak pun bisa bekerja di luar rumah. Sementara itu, di Jerman, budayanya adalah melakukan apa-apa sendiri. Karena sangat tidak lazim bagi mereka untuk menyewa jasa PRT, salah satu dari pasangan suami istri mau tidak mau harus mendedikasikan waktu penuh untuk anak-anak mereka.

Setelah berbincang dengan Teh Mira, satu hal menjadi jelas: sebagai bangsa Indonesia (dan juga Sunda), kita tidak boleh merasa inferior. “Melestarikan budaya leluur adalah bagian penting dari mengenali jati diri kita. Sebagai individu, kemampuan saya berkomunikasi dengan bahasa Sunda, menari tarian Sunda, mengapresiasi sastra dan musik Sunda adalah bagian penting dari identitas saya sebagai orang Sunda. Sehingga jika kebudayaan ini hilang, maka saya akan seperti kehilangan identitas. Oleh karena itu saya rasa sangat penting jika anak muda ikut melestarikan bebudayaan Sunda,” tutur Teh Mira.

Bagi teman-teman yang tertarik untuk mengobrol langsung dengan Teh Mira, terutama soal media dan komunikasi, kajian gender, serta pendidikan, dapat langsung menghubungi Teh Mira di email mira.rochyadi-reetz@tu.ilmenau.de.

PROFIL

Nama Lengkap: Mira Rochyadi-Reetz

Pendidikan:

S1 Bisnis dan Manajemen Universitas Widyatama

S2 Teknik Industri Institut Teknologi Bandung

S2 Ilmu Media dan Komunikasi Universitas Teknologi Ilmenau

Bidang yang didalami dan bisa dibagi:

  • Media dan komunikasi
  • Kajian gender
  • Pendidikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *