Bhawika Hikmat Prasetya: Menggaungkan Angklung di Negeri Gajah Putih

 

Kang Bhawi tengah mengajarkan cara bermain angklung kepada murid-murid di Thailand

Ada banyak cara untuk berkontribusi dalam perdamaian antar masyarakat, negara, bahkan dunia. Salah satu cara yang paling mengena ke hati, tak lain adalah seni dan budaya. Dalam artikel ini, Ngariung berkesempatan untuk berbincang dengan Kang Bhawi mengenai sepak terjangnya dalam mengenalkan budaya Indonesia, khususnya Sunda, di Thailand, tempatnya kini menuntut ilmu. Yuk simak cerita Kang Bhawi!

Menggeluti dunia seni budaya bukan hal yang sejak awal telah direncanakan oleh Kang Bhawi. Interaksi pertama Akang lulusan S1 jurusan jurnalistik dari Universitas Padjadjaran ini dengan bentuk kebudayaan Sunda adalah ketika ia belajar gamelan semasa SMP. Tidak disangka, hal itu mengantarkan Kang Bhawi pada berbagai peluang yang memperkaya pengalamannya, seperti Pasanggiri Mojang Jajaka, Pemilihan Duta Bahasa, serta melanjutkan studi S2 di Universitas Naresuan, Thailand.

Semasa kuliah di Universitas Padjadjaran, Akang penyuka sayur kacang dan sayur daun singkong ini aktif dalam kegiatan-kegiatan kultural. Rindu dengan gamelan yang biasa dimainkannya di SMP, Kang Bhawi bergabung dalam Lingkung Seni Sunda, sebuah kegiatan ekstrakurikuler yang mewadahi kegiatan terkait seni dan budaya Sunda, khususnya seni penampilan dan musik.

Didorong oleh keinginan untuk lebih banyak belajar dan mempromosikan budaya Sunda, Kang Bhawi yang telah dinobatkan sebagai Jajaka Pinilih Kota Bandung 2008 memutuskan untuk mengikuti pemilihan Duta Bahasa Jawa Barat. Berkat pemahaman dan pengalamannya, Akang yang berlogat Sunda kental ini menjadi Finalis Duta Bahasa Jawa Barat 2008.

Menurut Kang Bhawi, penting baginya untuk berinteraksi dengan manusia dari berbagai latar belakang, yang kemudian ia lakukan dengan beberapa kali mengikuti kegiatan pertukaran budaya. Pada tahun 2007, Kang Bhawi mendapat kehormatan untuk mewakili Indonesia dalam International Student Week di Ilmenau, Jerman. Pada tahun 2009, Akang yang satu ini terpilih menjadi salah satu penerima Indonesian Arts and Culture Scholarship (IACS), acara tahunan Kementerian Luar Negeri RI yang memberikan kesempatan bagi pemimpin-pemimpin muda negara-negara ASEAN, Asia Timur, serta Kepulauan Pasifik untuk mempelajari kebudayaan Indonesia. Karena Kang Bhawi orang Sunda, ia tidak ditempatkan di Jawa Barat. “Saya ditempatkan di Jogja, dan seru sekali hidup di antara orang-orang Jawa, serta mempelajari alat-alat musiknya yang berbeda dari yang biasa saya pegang di LSS.”

Selepas sarjana, Kang Bhawi merintis karis di bidang jurnalistik. Di antara pekerjaan yang pernah digelutinya adalah menjadi reporter tabloid BOLA, presenter sekaligus reporter dan petugas kamera segmen “Dunia Kampus” TVRI, staf produksi “Public Corner” Metro TV, serta pembaca cerita segmen “Bewara Enjing” dan “Jurnal Bandung” di PJTV. Terakhir, Kang Bhawi bekerja sebagai corporate secretary di Saung Angklung Udjo.

Pekerjaan-pekerjaan yang telah digeluti oleh Kang Bhawi, menurutnya, semakin memantapkan dirinya untuk berkontribusi di bidang seni budaya. “Selama bekerja di Saung Angklung Udjo, saya belajar banyak mengenai pariwisata. Saya yakin jika diusahakan, pariwisata Indonesia akan semakin maju.” Karenanya, ketika Pemerintah Thailand menawarkan beasiswa pascasarjana bagi pemuda-pemuda ASEAN, Kang Bhawi memutuskan untuk mencoba masuk ke jurusan Manajemen Pariwisata Universitas Naresuan.

Akang yang kini sedang berjuang menulis tesisnya berpendapat bahwa kunci keberhasilannya mendapatkan beasiswa adalah kredibilitas rekam jejaknya. Dengan latar belakangnya yang diisi oleh kegiatan seni budaya, serta pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan pariwisata, pihak pemberi beasiswa percaya bahwa beasiswa yang diberikan di jurusan Manajemen Pariwisata tidak akan sia-sia apabila diberikan kepada Kang Bhawi. Beasiswa adalah amanah, dan amanah hanya akan diberikan kepada seseorang yang kredibel, nu tiasa dipercanten.

Selama menuntut ilmu di Thailand, Kang Bhawi turut berkontribusi pada diplomasi budaya Indonesia. Laki-laki kelahiran Bandung ini setidaknya pernah diundang ke 14 universitas di Thailand untuk mengajarkan bahasa, seni dan budaya Indonesia, musik Indonesia, serta angklung. Tidak hanya itu, Kang Bhawi juga mengajarkan musik Indonesia kepada anggota Parlemen Thailand!

Lucunya, Kang Bhawi sendiri baru belajar memainkan angklung di Thailand. “Saya sebenarnya belum pernah belajar angklung secara formal. Baru setelah muncul permintaan-permintaan untuk mengajar angklung,” pungkas Kang Bhawi. “Metode pembelajaran di Saung Angklung Udjo saya terapkan ketika saya mengajarkan angklung di Thailand,” terangnya lagi.

Merantau ke tempat yang asing memang tidak lengkap tanpa pengalaman suka duka. Antusiasme para peserta kelas angklung Kang Bhawi tidak pernah gagal meningkatkan semangatnya mengenalkan budaya Indonesia, khususnya Sunda, kepada masyarakat dan pemerintah Thailand. Menurutnya, angklung cukup digemari oleh masyarakat Thailand karena mudah dipelajari. “Sekali belajar, paling tidak langsung bisa main satu lagu,” kata Kang Bhawi.

Salah satu tantangannya, menurut Kang Bhawi, adalah fakta bahwa kebanyakan orang Thailand tidak fasih berbahasa Inggris. “Karena saya nggak bisa pakai bahasa Inggris, saya jadi harus belajar bahasa Thailand,” ceritanya sambil tergelak.

Bicara rencana masa depan, Kang Bhawi nampaknya masih akan berkiprah di mancanegara. Ia berniat untuk mengajar manajemen pariwisata serta bahasa dan budaya Indonesia di universitas di Thailand.

Kang Bhawi merupakan seseorang yang sangat bangga pada budaya Sunda. Salah satu caranya melestarikan budaya Sunda adalah dengan memperkenalkan budaya Sunda dan wisata kota Bandung kepada masyarakat Thailand dan Laos, seperti yang pernah dilakukannya dengan bekerjasama dengan Paguyuban Mojang Jajakan Kota Bandung. Kang Bhawi mengaku bahwa pengenalan ini seringkali dipergunakannya untuk ‘pamer kekayaan’. “Saya sering cerita bahwa bahasa di Indonesia ada ratusan bahasa, kontras dengan Thailand yang bahasanya seragam.”

“Terasa sekali kalau sudah di luar teh, kangen pisan dengan bahasa Sunda. Di sini hanya ada dua orang Sunda, sekalinya ngobrol pasti nyunda,” terang Kang Bhawi. Menurutnya, dengan bahasa Sunda, Kang Bhawi bisa lebih ekspresif dan jadi diri sendiri karena bahasa Sunda selalu punya kata yang pas sekali untuk digunakan. Kang Bhawi memberi contoh, “untuk kata jatuh, misalnya, kan banyak istilahnya. Kalau mau bilang jatuh terpeleset, tisoledat. Jatuh ke lubang, tigebrus!” Memang, setidaknya bahasa Sunda memiliki 34 istilah berbeda untuk mendefinisikan jatuh dengan kondisi yang berbeda-beda pula.

Budaya, bagi Kang Bhawi, adalah bagian penting dari identitas seseorang. Di mana pun kita berada, orang akan pertama-tama mengidentifikasi asal dan akar kita. Apa yang dilakukan Kang Bhawi sekarang, bisa dibilang adalah wujud rasa terima kasihnya pada budaya yang membentuknya menjadi dirinya yang sekarang.

Bagi teman-teman yang tertarik untuk mengobrol langsung dengan Kang Bhawi, terutama terkait kebudayaan, pariwisata, dan kepemudaan, bisa langsung menghubungi Kang Bhawi di email bhawikahp@gmail.com.


PROFIL

Nama Lengkap: Bhawika Hikmat Prasetya

Tempat, Tanggal Lahir: Bandung, 30 Juni 1985

Pendidikan:

S1 Jurnalistik Universitas Padjajaran (2006-2009)

S2 Tourism Business Management, Naresuan University, Thailand (2015-2017)

Bidang yang didalami dan bisa dibagi:

  • Pertukaran Budaya
  • Kepemudaan
  • Budaya
  • Wisata

E-mail: bhawikahp@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *