Tubagus Ari Wibawa Mukti: Berangkat Kuliah ke Inggris Bermodal ‘Keukeuh’ dan ‘Geremet’

Kak Tebe bersama keluarga di Inggris

Kuliah di Negeri Ratu Elizabeth, Inggris, merupakan impian banyak orang. Narasumber Ngariung kali ini, Tubagus Ari Wibawa Mukti, atau biasa dipanggil Kang Tebe, kini tengah kuliah di Inggris dengan beasiswa dari LPDP. Yuk, kita simak cerita hidup serta cita-cita Kang Tebe yang super menginspirasi!

Sejak kuliah, akang penyuka ikan mas goreng plus sambal goreng terasi ini sudah terbiasa hidup mandiri. Semasa berkuliah di Program Studi S1 jurusan Hubungan Internasional Universitas Indonesia angkatan sembilan tahun silam, ia sudah mulai merintis bisnis dengan beberapa teman karibnya. Bisnisnya pun bervariasi, mulai dari usaha konveksi, vendor buku tahunan, restoran “Ayam Goreng Depok”, hingga memberi pelatihan simulasi sidang Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk anak-anak SMA.

Tidak hanya jiwa bisnis, jiwa kepemimpinan Kang Tebe juga telah terasah sejak kuliah. Kang Tebe pernah memikul amanah sebagai Presiden Indonesian Student Association for International Studies, sebuah organisasi yang bergerak di bidang kajian internasional dan bertujuan untuk berkontribusi pada perdamaian dunia. Kiprah Kang Tebe dan tim dalam organisasi ini tidak tanggung-tanggung. Pada masa kepemimpinannya pada tahun 2008-2010, simulai sidang PBB atau Model United Nations (MUN) sedang ngehits, dan ISAFIS meluncurkan MUN-nya sendiri, yakni Jakarta MUN yang kini dibuka untuk peserta nasional maupun internasional setiap tahunnya.

Selepas mendapatkan gelar sarjana, Kang Tebe tidak langsung melanjutkan pendidikan ke tingkat magister karena ia berniat untuk mencari pengalaman kerja terlebih dahulu. Setelah bekerja di Total Oil selama setahun, Kang Tebe melanjutkan karir di Kementerian Perdagangan Korea Selatan di bidang pengembangan bisnis. Selama bekerja di Kementerian ini, Kang Tebe banyak mengambil ilmu yang di kemudian hari bermanfaaat baginya, seperti ilmu tentang mencari peluang bisnis dan menciptakan kerja sama bisnis yang menguntungkan. Selesai dari pekerjaan tersebut, Kang Tebe membuat bisnis-bisnis baru dengan bantuan pinjaman bank.

Bisnis-bisnis tersebut di antaranya adalah toko pangkas rambut pria Bro Barbershop, restoran Ayam Goreng Karawaci, toko kebutuhan sehari-hari, dan bisnis distribusi gas alam kepada perusahaan-perusahaan gas. Ketika ditanya mengapa memilih bidang-bidang usaha yang ia pilih, Kang Tebe menjawab, “Saya melihat peluang bisnis yang ada selama bekerja di Kementerian Perdagangan Korea.” Banyak yang telah percaya pada Kang Tebe terkadang memberikan inspirasi atau informasi penting terkait bisnis, yang kemudian digunakan Kang Tebe untuk mengembangkan bisnisnya sendiri.
Kang Tebe mengatakan kunci keberhasilannya mendapatkan sponsor dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), adalah kekeuh (persistensi) dan geremet (riset). Setelah berbagai riset mendalam mengenai jurusan dan universitas, Kang Tebe memilih jurusan Kebijakan Publik di Universitas Bristol, Inggris. Setelah diterima oleh universitas tersebut, perjuangan mencari beasiswa di LPDP dimulai.

Surat motivasi, yang menjadi salah satu berkas seleksi pertama LPDP, harus dibuat sejelas mungkin, dan menunjukkan bahwa kamu telah benar-benar mengetahui jurusan apa yang kamu mau, dan bagaimana kamu akan menggunakan gelar dan ilmu yang didapatkan di luar negeri. Tantangan yang lebih berat menurut mantan Pasukan Pengibar Bendera Provinsi Banten ini ada di tahap wawancara. Para pewawancara adalah orang yang sangat berpengalaman di bidang mereka, dan mereka akan benar-benar mencecarmu mengenai pengalamanmu, dan langkah konkret dari cita-citamu di masa depan.

“Soal pengetahuan, mereka jauh lebih mengerti dari pada saya, jadi mereka tidak terkesan waktu saya pamer pengetahuan saya.”, cetus Kang Tebe.

“Kata salah satu pewawancaranya, ‘udah gak usah ngomongin soal itu, saya lebih tau! Omongin yang konkret-konkret saja lah!’”, lanjut Kang Tebe sambil tertawa.

Lebih dari pengetahuan, sesi wawancara lebih akan menggali karakter dan mentalmu. Awalnya, Kang Tebe diragukan integritasnya, karena latar belakangnya sebagai pebisnis. Kata Kang Tebe, “Saya balikin aja kata-kata beliau. Jika semua berpikir bahwa pebisnis itu kotor, seperti beliau, bagaimana Indonesia bisa maju? Wah, pokoknya saya ngotot dan balikin terus kata-kata mereka, deh.”

“Waktu itu saya juga ditawarin buat pindah universitas. Saya ditawarin pindah ke universitas lain di Singapura. Kalau saya tandatangani suatu berkas, nanti saya dijamin diterima di sana, biayanya juga akan ditanggung LPDP. Tapi saya keukeuh, saya mau di Bristol! Misalnya saya ngga dapet LPDP, saya cari beasiswa lain kalau perlu.”

Singkat cerita, laki-laki yang sudah menikah dan dikaruniai seorang anak empat bulan lalu ini sedang memulai menyusun tesisnya di Inggris. Ketika ditanya soal suka duka merantau, Kang Tebe mengaku yang menjadi perhatiannya adalah biaya hidup bagi yang sudah berkeluarga, terutama karena keluarga Kang Tebe juga masih sangat muda.

“Selebihnya, kuliah di sini menyenangkan. Palingan, harus benar-benar mandiri, kali, ya. Kalau di S1, mungkin antara dosen dan mahasiswa masih dekat. Sekarang, saya sudah harus disiplin sendiri, tidak boleh bergantung pada dosen atau bahkan teman sejurusan,” tambahnya.

Sepulang dari kuliahnya nanti, Kang Tebe akan melanjutkan bisnisnya, serta memulai kiprahnya di dunia politik. Menurutnya, penting bagi anak-anak Indonesia yang mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi untuk kembali ke Indonesia dan berbakti kepada negaranya.

Sebagai urang Sunda, Kang Tebe memiliki caranya sendiri dalam melestarikan kebudayaan Sunda. Salah satu caranya adalah memakai tata krama Sunda saat berinteraksi dengan siapapun, serta melestarikan budaya Sunda dalam keluarga. Pelestarian budaya Sunda, terutama oleh muda-mudinya, penting bagi Kang Tebe, karena budaya adalah sesuatu yang diwariskan turun-temurun. Kalau anak mudanya tidak peduli, budaya Sunda bisa saja makin terkikis oleh zaman, kemudian punah.

Kepada anak-anak muda yang ingin mengikuti jejaknya, Kang Tebe berpesan bahwa manusia adalah produk dari kebiasaan, kebiasaan yang berulang akan membentuk karakter seseorang, dan karakter seseoranglah yang menetukan posisinya. Sebagai nonoman (anak muda) Sunda, alangkah baiknya jika budaya dan agama dijadikan sebagai dasar. Barulah setelahnya, kita dapat mengikuti ambisi dan optimisme untuk mengejar mimpi. Mengutip motto hidup Kang Tebe, dalam hidup, wajib hukumnya untuk “Ikhtiar”, “Tawakal”, serta “Istiqamah”.

Bagi teman-teman yang tertarik untuk mengobrol langsung dengan Kang Tebe, terutama terkait merintis bisnis, mengembangkan bisnis, dan pengembangan kota, bisa langsung menghubungi Kang Tebe di email ariwibawamukti@gmail.com atau bisa mengikuti akun Instagram-nya di @tb.arimukti


Nama Lengkap: Tubagus Ari Wibawa Mukti

Tempat, Tanggal Lahir: Jakarta, 12 Juli 1990

Pendidikan:

S1 Hubungan Internasional, Universitas Indonesia (2008-2012)

S2 Public Policy, University of Bristol (2016-2017)

Bidang yang didalami dan bisa dibagi:

  • Business creation
  • Business development
  • Urban development

E-mail: ariwibawamukti@gmail.com

Instagram: @tb.arimukti

Twitter: @tbarimukti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *